Polling1
Nasib memang kejam tapi sungguh adil. Ketika aku menjerit marah, putus asa: Tuhan, kenapa Engkau takdirkan aku miskin?, sesungguhnya aku telah menghina-dinakan hidupku sendiri. Seharusnya aku malu. Marah itu, putus asa itu, adalah refleksi sikap tak tahu diri.

Maafkan aku tak bermaksud menceramahimu. Jika kau merasa hidupmu melarat, ingatlah bahwa di dunia ini berlaku hukum sebab-akibat. Tuhan tak akan menjatuhkan <i>Maybach</bi> khayalanmu dari langit, karena kau pasti akan 'hilang' ditimpa sedan itu. Sederhananya, jangan tanya kenapa Lakhsmi Mittal kaya, bodoh sekali, bukankah ia seorang pengusaha. Ingin sekali aku jelaskan bahwa <u>Mittal tidak akan disebut pengusaha kalau dia tak berusaha,<u> andaikata kau bilang Mittal ikut pasang ilmu <i>cupang</i>.
unggu kepulangan gadis-gadis yang mengaji di ustadz Komar.

<blockquote>"Kau harus menyapa salah satu dari gadis-gadis itu."

"Rasanya aku tak akan berani melakukan itu, kau kan tahu kalau aku ini grogian," Ubay menggaruk rambutnya.

"Kalau begitu, cukup lemparkan senyum saja. Senyum yang manis."

"Senyum manis?" Ubay meraba dua belah pipinya yang cekung.

"Ah ya, bagaimana mungkin wajah sepertimu bisa tersenyum manis. Ya sudah, senyum biasa saja. Tapi ingat, pilih salah satu dari gadis itu. Jangan sama Hesti, jangan sama Nurlela. Kamu bukan tipe cowok yang disukai kedua gadis itu."

Ubay masih menggaruk kepala. "Bagaimana kalau nggak ada yang mau membalas senyum?"

"Yah, itu berarti kamu memang cowok yang benar-benar nggak ada harganya."

Ubay menggaruk... kali ini ketiaknya.</blockquote>
<!--more-->
Maka, lepas bedug Maghrib ia persiapan. Aku sarankan penampilannya harus klop dengan sikon. Ia berdandan: sarung Atlas pinjaman Dias, kemeja warna-warni punya Dani, pecinya putih haji hasil mencuri, sandalnya jepit Swallow milik pribadi.

Nah, waktu Isya berlalu, dengan manis seorang santri anyar jongkok di belakang pagar mushala.

Tak lama menunggu. Hanya empat atau lima isapan rokok, terdengarlah ribut-ribut orang bubaran mengaji. Segerombolan gadis berkerudung bermunculan dari gang kecil di samping mushala. Ubay blingsatan. Ia tak menyangka akan secepat itu prosedurnya. Dicampakkan segera rokoknya yang masih panjang. Ubay jatuhkan pantatnya di tugu tembok, duduk bersila ala paranormal. Ia menyapu rambutnya pake jari tangan. Dirapikan baju dan kain sarungnya.

Sebentar lagi cewek-cewek ABG itu akan lewat. Ubay grogi setengah mati. Ia harus pasang senyum.

Satu, dua... Tiga!

Boro-boro bisa senyum, memandang saja Ubay tak kuasa. Eh, matanya malah berkeredip sendiri ke arah gelap di seberang jalan. Itu mulutnya... <i>weuweuweuwrr</i> seperti kepedasan, bibirnya <i>brebeb-brebeb</i> kesemutan, dua belah pipi kempotnya gemetar, gigi-giginya gemeretak, urat pantat kedut-kedutan, lutut empot-empotan. Ubay merasa jantungnya dibetot, ditonjok, diremas. Sulit setengah mati menahan grogi. Tambah nervous lagi saat menyadari Hesti dan Nurlela (dua gadis yang sejak dulu dipujanya) berjalan paling depan.

Dua gadis itu lewat di depan hidung Ubay seperti bebek yang super cuek, tak menoleh, tak pula melirik, apalagi tersenyum.

Kemudian ada Susi dan Lena. Sama saja. Keduanya seperti sepasang ayam melintas di jalan. Mereka menganggap Ubay tak lebih tak kurang sebagai patung berhala. Ubay kesal sama Lena, padahal gadis itu adalah tetangga samping rumahnya dan masih <i>se-nenek se-dulur</i>.

Giliran Titin dengan Desi yang lewat. Titin <i>mah</i> tak mau melirik-lirik <i>acan</i>, <i>ngan</i> Desi rupanya agak perhatian. Gadis yang kerudungnya kuning itu menoleh sebentar, lalu ia berbisik kepada Titin di sebelahnya. Kedua gadis itu menutup mulutnya menahan tawa.

Ubay tertegun. Ia berusaha mencari tahu, kelucuan apa yang ada pada dirinya. Ia menunduk hingga dagunya menyentuh dada. Barangkali kancing kemejanya salah lubang, atau barangkali gulungan sarungnya terlalu besar hingga perutnya tampak buncit. Ubay meraba kopeah hajinya, barangkali terlalu <i>membles</i> di kepala, atau barangkali Desi tahu kopeah itu milik mang Danu. Apa yang lucu?

Penampilan Ubay sebenarnya oke punya. Ia tampak alim, mirip santri beneran. Ah, jangan-jangan Desi tertawa justru karena penampilan Ubay yang tak biasa. Datang darimanakah Ubay <i>ujug-ujug</i> nongkrong pake atribut santri?

"Ah, nasib diri, mungkin aku cuma pantas pake kaos oblong dan celana komprang saja," ratap Ubay, getir. Segera, kegrogiannya lenyap berganti rasa kesal dan sedih.

Tiba-tiba...

"Kak Ubay kok duduk menyendiri. Lagi introspeksi ya?" suara lembut menyapa.

Braaaaaay...!

Terang benderanglah alam dunia yang semula gelap gulita. Lampu listrik lima watt di teras mushala yang tadinya <i>kidip</i> berganti neon merk philips. Ubay mengangkat wajah. Matanya... wow, ratusan watt! Ia sangat berbahagia. Ia merasa hidupnya tak lagi sia-sia.

"Eh iya, iya, impotensi. Ups! Apa tadi, neng?" Ubay gelagapan.

Si eneng tertawa, manis sekali. Sebelum meneruskan langkahnya, kembali ia melemparkan senyum.

Ubay terbius. Ubay melayang-layang di langit cinta. Ubay tenggelam di samudra bahagia.
Sambungan

Create wapsite