Old school Swatch Watches

Motor Jupiter Z itu kalau bukan Adjie yang punya mungkin sudah banyak tempelan stikernya, atau karena ikutan mode dan gengsi, bodinya mungkin sudah dipermak agar lebih trendi. Tapi Adjie senantiasa menjaga identitasnya sebagai guru.

Ia melajukan motornya di jalan yang lengang sepi. Seperti biasanya jarum speedometer hanya berkutat di angka 40 km/jam. Helm kali ini dipakai untuk menangkis sengatan matahari langsung ke rambutnya. Saat melewati pesawahan panjang yang minus pepohonan, Adjie melihat jalan kerikil setengah aspal memuai kepanasan.

Tapi akhir-akhir ini Adjie kurang peduli dengan terik matahari. Sepanjang perjalan pulang mengajar pikirannya selalu digelayuti oleh bayangan acara pernikahannya. Ia dilanda cemas-cemas bingung oleh karena keluarga Winne belum bisa memutuskan secara pasti kapan akad nikah diselenggarakan. Yang jadi pikiran, ternyata keluarganya sendiri berencana mengundurkan acara sampai kira-kira 4 atau 5 bulan lagi. Adjie mencuri dengar perbincangan antara ayah dan ibunya bahwa mereka akan menunggu duit yang didepositokan di BCA jatuh tempo. Mereka menganggarkan biaya untuk mengundang kiyai kondang serta acara qasidah 2 malam tak cukup hanya mengandalkan gaji serta kucuran dana dari sanak saudara. Mereka tak mau jika ada tetangga yang meledek (beginikah acara pernikahan seorang anak haji?)
<!--more-->
Memasuki daerah perkebunan rimbun, lamunan guru muda itu beralih ke suasana kantor. Tiba-tiba, sepeda motor warna hitam silver tanpa nomor polisi datang dari arah belakang dan kemudian mengiringinya. Dua orang lelaki bergaya preman duduk di atas motor merk Revo itu. Sang pengemudi mengenakan jaket kulit hitam, jeans ketat serta helm berkaca gelap, sedangkan orang yang duduk di boncengan memakai kaos oblong, celana pendek, bersepatu bot dan kepalanya sengaja ditutupi kain ala ninja. Beberapa detik lamanya dua motor itu melaju bersebelahan.

Jantung Adjie berdebar tak menentu. Takut terjadi saling gesek, ia mengemudikan Jupiternya lebih ke tepi, nyaris keluar dari ruas jalan. Tapi, si kedua preman rupanya ingin terus mendampinginya dalam jarak sedekat mungkin. Meski tidak ada aba-aba semacam gerakan tangan dari kedua preman itu, Adjie berniat menghentikan motornya. Namun... Adjie <i>soak</i>, orang tak dikenal itu memainkan gas dan ber-<i>jumping</i>.

Adjie memahami gelagat tak baik. Kedua orang itu pasti punya niat jahat. Hendak mencelakainya, atau mungkin ingin merampas sepeda motornya. Adjie tak habis pikir seandainya kemungkinan yang pertama itu terjadi. Kapan ia pernah berurusan dengan orang-orang semacam mereka? Dan sepanjang <i>jumenengan</i> di muka bumi ia tak pernah bergaul, apalagi bikin ulah dengan preman. Jadi, benarkah mereka kawanan perampas motor?

Tak sempat mikir panjang harus menghindar dengan cara apa dan bagaimana, tiba-tiba... syuuuut! Kaki bersepatu bot orang yang duduk di boncengan menyerobot pinggangnya.

Buk!

“Aduuuuh!”

Dua motor sama-sama oleng akibat hentakan kaki si pemakai bot di pinggang Adjie. Si Jupiter limbung seperti ikan tawes kena bom dinamit. Lawannya, si Revo, gesit bermanuver, lalu kabur kembali ke belakang, ber-<i>jumping</i> ria, ber-<i>zig-zag</i> sambil tertawa-tawa.

Adjie tak sanggup mengendalikan sepeda motornya. Grusuk, si Revo nyeruduk rerumputan dan di tepi jalan, lalu braaak! Menumbur sebatang pohon besar. Guru muda yang ganteng dan sedang bertunangan itu terlempar ke tanah, <i>jungkir balik jumpalitan</i> dan akhirnya terjerumus dalam parit kering.

“Inikah konsekuensi dari sebuah pertunangan?”pertanyaan itu muncul tak terduga di tengah-tengah antara sadar dan tidaknya.