XtGem Forum catalog

Setiap kali kumainkan gitarku di poskamling, semua pasti berjingkrak kesenangan. Hebatnya aku, lagu apa saja yang direquest kawan bisa hapal kunyanyikan. Dari mulai lagu-lagunya <b>Padi</b> sampai <b>Boomerang</b>, dari <b>Iwan Fals</b> sampai <b>Doel Sumbang</b>, dari <b>Kenny Rogers</b> sampai <b>Heti Koes Endang</b>.

Setiap kumainkan gitarku di poskamling, para pemuda mengerubungiku. Mereka bilang, malam yang dingin menjadi hangat, hati yang sedih menjadi ceria. Terutama bagi mereka yang jomblo, lagu-lagu yang kunyanyikan amat sangat menghibur kesepian.

Dulu, pernah ada Kusno yang beberapa bulan lalu mendapat gelar almarhum. Ia bilang hidup di Pasirbambu sampai kapan pun nggak akan pernah nyaman dan tentram. Ketika ia masih bujangan, setiap malam penduduk ketar-ketir tak bisa tidur karena terus diteror musuh-musuh tentara masa perang, hilang PKI hadir pula DI/TII. Dan sekarang, lelaki tua tukang jaga gedung SD itu setiap malam menggerutu karena bising oleh suara gitarku. Tidurnya jarang nyenyak. Sampai akhirnya...

"HENTIKAAAN...!"

Kusno datang mengacungkan golok. Dan golok itu dihunuskan padaku. Kami bubar.
Rupanya itulah terakhir kali Kusno marah-marah. Tujuh malam berturut-turut setelah kejadian itu justru di rumahnya kami membetot urat leher mengikuti acara tahlilan. Kami berduja atas kepergian Kusno ke alam baka. Lalu, malam-malam berikutnya poskamling kembali bak arena pertunjukan konser band terkenal.

Pemuda kurus bernama Ruslan menyelinap di gudang kayu milik mang Firman. Ia kembali membawa setumpuk kayu bakar. Anwar, sohibnya yang gendut, membantunya memunguti daun-daun kering. Dikumpulkan benda-benda itu di depan poskamling, lalu dibakar. Malam temaram berubah jadi terang. Wajah-wajah tampak lebih ceria.

"Hangat, euy!" seru Buhe.

"Nyamuk-nyamuk pada kabur," aku menimpali di tengah lagu yang kunyanyikan.

"Perut laparku jadi kenyang," kata Ruslan.

"Aku malah tambah lapar," balas Anwar.

"Dasar gendut!"

Sementara Apip terus merengut. Jongkok di depanku, memeluk lutut. Ia iri dan kesal, kenapa Naryo selalu punya duit buat nongkrong di warung Leli.

Ubay datang, wajahnya sumringah. Ia langsung terlentang di bale-bale. Senyumnya terus mengembang.

Anwar pun ikut menggelosor di bale-bale. Ia mengintip bulan. "Aku merindukan Neng Lela," lirihnya.

"Nurlela putri mang Juha?" Ruslan menoleh.

"Hmm!"

"Walah, aku juga naksir sama Lela. Hati-hati kau, War!"

Anwar mencibir.

"Semua orang pasti naksir Lela," aku ikut bicara. "Dia cantik, seksi, anak tunggal, ortu nyaris meninggal. Harta warisannya buanyak, bro!"

"Kampret, kau!"

Pick up <b>Chevrolet</b> lewat di jalan. Aku jengkel, suara gitarku kandas oleh raungan mesin mobil itu. Kusimpan gitar, lalu mencolek pinggang Ubay. "Gimana, Bay? Berhasil?"

Ubay tertawa-tawa. "Malam ini aku orang yang paling bahagia," katanya.

"Siapa yang membalas senyummu, Bay?"

"Rani. Tetanggamu."

"Yes!" aku berseru. "Dia cewek gaul yang baik hati. Dia 75% cocok denganmu."

"Kenapa nggak seratus?"

"Seperempat-nya menyusul kalau kau sudah dapat izin tertulis dari Dani."

Ubay tertegun. Mukanya berubah agak kecut. Ia baru sadar kalau Rani adalah adik kandung Dani.

"Rani nggak mengungkit-ungkit kemejamu?" tanyaku lagi.

Ubay tambah pucat, meraba kemeja yang dipakainya. Kemeja itu pinjam dari Dani.

"Tapi jangan kuatir, Bay," aku menghiburnya. "Si Dani nggak bakal keberatan adiknya pacaran sama kamu. Syaratnya, kamu harus pintar membuat Dani senang. Sepotong bakwan sehari si Dani pasti senang hati."

Ubay tersenyum.

Aku kembali mengambil gitar, siap bernyanyi. Tapi...

"Eh, kemana si Apip?"

Cowok itu berjalan gagah menuju warung Leli. Naryo serta pemuda lainnya sudah tak nampak lagi di warung itu.



Sambungan