Jika hari ini kau ada di Pasirbambu dan hendak meneruskan perjalanan ke kecamatan, lupakan masalah transfortasi. Kau bisa jalan kaki asal jangan gengsi pakai payung atau helm untuk menangkis terik matahari.
Perjalanan Pasirbambu-Kecamatan Lebaksari akan melewati satu desa lagi, bernama desa Haurkuning. Dari lapangan Pasirbambu lurus ke timur susuri jalan aspal. Kau harus sabar dan jangan dulu berharap segera melintas pesawahan sebagai pembatas desa. Terlebih dulu kau akan melewati perkebunan sepanjang 30 meter, dan daerah ini termasuk ke dalam wilayah desa Pasirbambu. Habis kebun, jalanan sedikit menurun. Di situ matamu bisa leluasa memandang ke kejauhan. Di bagian kiri jalan terhampar pesawahan luas, sedangkan di sebelah kanannya berupa tanah lamping yang curam dengan sedikit rumput sehingga dari kejauhan yang tampak cuma tanah merahnya saja. Jauh ke depan, sekitar 200 kaki, ada kelokan tajam menjurus ke kanan. Jika bagian kanan jalan itu berupa pesawahan juga, pasti akan terlihat nun jauh di sana sebuah gapura perbatasan desa.
Yap, sampai di sana kau bisa tanya pada warga Haurkuning, apa lagi yang akan kau jumpai sebelum sampai di kecamatan Lebaksari. Saranku cuma satu: habiskan saja film kameramu selagi masih di Pasirbambu. Kenapa? Karena sepanjang jalan Haurkuning-Kecamatan kau tak akan menemukan objek indah buat photomu selain dari deretan rumah-rumah padat dan minus pepohonan.
<!--more-->
Bukannya agul, di bidang keindahan alam Pasirbambu memang lebih unggul. Kau bisa berpose di bawah lamping tepi kanan jalan untuk diabadikan dalam photo. Teman-temanmu di kota niscaya terkagum-kagum dan menyangka photo itu diambil di Kebun Raya Bogor. Lebih eksotik lagi jika kau berjongkok di tepi jalan sebelah kiri, sementara <i>shoot</i> dari bawah lamping tersebut. Nah, latar belakang hamparan sawah serta hijau perkebunan kopi di seberangnya, paling tidak akan mengundang tanya teman-temanmu di kota:“Kapan kau ke Puncak?”
Berlebihan, memang. Tapi nggak apa-apa kan membandingkan tegalan sawah di Pasirbambu dengan hamparan perkebunan teh di Puncak, toh sama-sama ada tempat peristirahatannya. Itu, tak jauh dari tepi jalan berdiri <i>saung</i> (gubuk) beratap daun berdinding pelupuh. Kita tahu <i>saung</i> dan vila memiliki fungsi yang sama.
Sekarang, daripada capek berjalan ke Kecamatan, mendingan kita hampiri <i>saung</i> itu. Siapa tahu kita akan menjumpai 2 tokoh cerita <font color="blue"><b>Kasih Tak Sampai</b></font> yang <i>blo'on</i> dan <i>belegug</i>, yaitu Ubay dan Ruslan. Menurut rencana, mereka akan mencegat seorang gadis SMP bernama Rani yang akan lewat di jalan bersama teman-teman sekolahnya.
Benar saja, kedua <i>cecunguk</i> itu sedang baring-baring.
“Hei kurus, siap-siap dong! Sebentar lagi dia lewat,”perintah Ubay, mencolok tengkuk Ruslan pakai telunjuk.
Ruslan bangkit ogah-ogahan.
“Kalau si Eneng serta kawan-kawannya munculi di gapura, kau harus cepat-cepat lari ke jalan. Duduk saja di bawah pohon mahoni dekat lamping itu,”Ubay beri petunjuk.
Ruslan mengangguk lesu. “Aku juga mau godain neng Lela,”katanya.
“Lela lagi, Lela lagi!”Ubay ketus.
“Aku naksir dia, Bay.”
“Aku juga.”
“Busyeeet... serakah amat lu!”
Ubay turun dari bale-bale, melangkah ke belakang <i>saung</i>. Tak lama terdengar bunyi gemericik air, bau pesing campuran jengkol dan petai <i>ngadalingding</i>, bikin si Ruslan tak tahan ingin muntah.
Ubay kembali ke depan <i>saung</i> sambil memasang sleting jeans belel-nya. “Ingat King, kau harus ngomong baik-baik di depan Rani. Jangan ngomong sembarangan,”katanya setelah duduk (King adalah panggilan akrab Ruslan, diambil dari kata <i>ceking</i> yang berarti kurus kerempeng).
“Aku akan bilang si Ubay tengik lagi berak di <i>saung</i>,”jawab Ruslan.
“Kupecahkan kantong kemaluanmu itu!”Ubay keki. Tangan kanannya menyambar sesuatu yang membekul di antara selangkangan paha Ruslan dan membetotnya.
Ruslan meraung. Sambil meronta ia menekukkan tangan tepat di atas paha Ubay. Sikut si ceking yang runcing menyucuk kuat.
“WADAAAUUU... !”Ubay membabi buta.
Tiba-tiba, suara deru motor menghentikan pertengkaran mereka. Ubay langsung <i>nyungsrep</i> ke pojok <i>saung</i>. Ruslan yang lemas karena kantong anunya diremas-remas merebahkan diri, tak kuasa bergerak lagi.
Di jalan tampak Dani sedang memacu motornya ke arah Pasirbambu. Dias duduk terkantuk-kantuk di belakang memeluk tas keranjang.
“Kau seperti anak SD ketemu tukang cutat, Bay,”ledek Ruslan setelah merasa kuat untuk bicara lagi.
Ubay mendengus.
“Mana yang lebih kau takuti, si Dias atau si Dani?”tanya Ruslan.
“Kenapa aku harus takut sama mereka?”Ubay membela diri.
“Si Dani akan marah kalau tahu adiknya kita cegat di sini.”
“Alaaaah... ah, beri dia sepotong bakwan pasti nggak bakal marah lagi.”
“Kalau si Dias harus dikasih apa biar nggak marah?”
“Eh, kenapa dia harus marah?”
“<i>Belegug</i>, lu! Pagi tadi si Dias kan nyuruh kamu <i>ngadonan</i>!”(ngadonan ada
Sambungan