Old school Swatch Watches

Beno dan Buhe sedang bermain domino di poskamling ketika motor Dani sampai di alun-alun. Dias minta turun di depan kedua pemuda itu.

“Kalian judi, ya?”tegur Dani dari atas motornya sambil memperhatikan kartu di tangan Buhe.

“Memangnya kau mau ikutan, Dan?”Buhe mendelik.

“Kalau judi jangan di tempat umum, dong! Diseret pak lurah, tau rasa lu!”Dani kembali menggas motornya memasuki gang Delima.

“Heh, judi apaan! Duit seperak saja aku tak punya,”gumam Buhe kemudian. Beno yang pendiam mengangguk saja.

Buhe melirik Dias yang masih tegak mematung di tepi jalan, memandang ke sebuah halaman berpagar tembok.

“Ias, sudahlah! Jangan terlalu dipikirin!”seru Buhe.
<!--more-->
Dias menoleh. Tersenyum kecut. Diayun langkahnya memasuki poskamling. Keranjang kosong ia gantungkan di tiang, kemudian duduk melihat rantaian kartu di atas papan.

“Apanya yang jangan dipikir, He?”tanya Beno.

“Bukan kau, tapi orang ini nih!”Buhe menepuk bahu Dias. “Dia memandang terus ke halaman rumah Wira. Aku jadi sedih.”

“Sialan lu!”Dias menyikut pinggang Buhe lalu merebahkan tubuh.

“Percuma kau lihat rumahnya doang, Ias,”ledek Buhe lagi. “Mending kalau si Winne-nya mencangkung di atas pagar tembok itu.”

“Bukan di atas tembok, tapi di atap rumah. Hahaha...”Beno tergelak.

“Dan kau puas memandangnya sambil tidur-tiduran di sini, Ias.”

Krrr... krrr... krrr...

Buhe dan Beno terkejut mendengar bunyi dengkur itu. Keduanya melirik Dias. Ternyata si Dias sudah <i>ngaguher</i> tidur.

“Coba kau tebak, Ben, sekarang si Dias sedang mimpi apa?”

“Duduk berduaan dengan Winne di atap rumah Wira.”

Keduanya nyengir kuda.
Sambungan