“Aku teringat Hendra setelah nonton film tadi. Dia mirip dengan Tio. Sama-sama pendian.”
“Tio lebih ganteng.”
“Kalau aku jadi Kania, pasti si Tio akan lebih menderita.”
“Alaaah... kalau kau jadi Kania, paling-paling kau bikin surat balasan untuk Tio dan menerima cintanya.”
“Ih sorry. Gimana mau hepi pacaran sama cowok kayak dia?”
Gadis-gadis berseragam olahraga itu terus bicara tentang Tio, tokoh film yang mereka tonton di kantin sekolah, hingga tak terasa mereka telah sampai di gapura perbatasan desa. Nun di kejauhan terlihat seorang pemuda kurus menyebrang jalan lalu jongkok di bawah pohon mahoni. Gadis-gadis itu berusaha saling tebak siapa gerangan cowok malang itu. Saat jarak semakin dekat, Lena berseru:“Hei, si Ceking!”
“Mirip gelandangan, jongkok berpanasan,”cibir Lela.
Sedangkan Rani tiba-tiba merasa tak enak. “Jangan-jangan dia tak sendirian,”gerentes hatinya.
“Kalau dia berani mengganggu kita, entah apa yang akan terjadi padanya. Aku akan siapkan ini,” Hesti memungut sepotong kayu di tepi jalan.
<!--more-->
Mereka akhirnya sampai juga di depan Ruslan yang lagi asyik mencolek 'harta karun' di lubang kupingnya pakai batang rumput.
“Aduuuh... <i>geuning</i> kak Ruslan ini <i>teh</i>. Nungguin siapa nih?”Desi menyapa dengan keramahan yang dibuat-buat. Semua nyengir mendengar sapaan itu.
“Aku menunggu...”mata Ruslan berpindah dari wajah gadis yang satu ke wajah yang lain.
“Siapa?”
“Ini dia, yang rambutnya kepang kuda. Boleh kupinjam dulu masuk <i>saung</i>?”
Lela yang rambutnya kepang kuda terbelalak. Sepotong kayu di cengkramannya bergetar. Kalau tidak melihat kepala Ruslan sangat kecil, tentu sudah dikepruknya kepala itu.
“Ups, salah!”Ubay mundur selangkah, pasang kuda-kuda. Ia tidak takut pada keprukan kayu, tapi takut pada bola mata Lela yang sebesar bola pingpong itu seperti hendak berlompatan menerjang mulutnya. Ia segera mengalihkan perhatian pada Rani.
“Nah, yang ini. Aku menunggu gadis yang satu ini,”seru Ruslan.
Rani bergerak menjauh. “Ah, ada urusan apa menungguku?”
“Anu, Neng, sang pangeran sedang menunggumu di <i>saung</i>.”
Kebetulan, ketika semua mata menoleh ke arah <i>saung</i>, kepala sang pangeran yang dimaksud Ruslan lagi nongol sedikit dari balik dinding pelupuh. Rupanya pangeran berambut gimbal itu tak sabar menunggu permaisuri segera hadir di sisinya.
Desi, Lena, Hesti, Lela dan Titin kontan tertawa terbahak-bahak.
“Wah, wah, wah... tak kusangka itu dia pangeranmu,”kerling Titin ke arah Rani.
“Apa nggak salah pilih, Neng?”cubit Hesti.
“Ayo, temui dia! Siapa tahu kak Ubaymu mau ngasih jambu bol!”Desi menyikut.
“Mending kalau jambu bol, gimana kalau jengkol?”Lela berseloroh pula.
“Eh, Ran, jadi Kania aja!”usul Lena.
“Iya, setuju!”timpal yang lain.
Rani masih kesal dan bingung.
“Neng,”Ruslan berkata lagi, “Kalau kau tak menemuinya, si Ubay akan terjun ke jurang Bulakan.”
Teman-teman Rani tertawa terpingkal-pingkal. Hari gini ngancam masih pakai kata bunuh diri? Nggak laku.
Rani tak mau buang-buang waktu lagi. Ia bergegas menuruni tegalan sawah. Enggan sih enggan, tapi Ubay musti dikasih pelajaran.
Bagaimana keadaan Ubay, sang pangeran? Sepuluh detik sebelum Rani sampai di depannya, Ubay buru-buru mengatur posisi duduk. Jongkok salah, uncang-uncang salah, memeluk lutut salah, berselonjor salah, <i>demprok</i> salah, semua salah. Akhirnya ia memutuskan untuk duduk bersila lagi. Dirapikan rambutnya, dicolek tai matanya, dicabut beberapa helai bulu hidungnya, di-<i>sring-sring</i>-kan pula benda lunak yang menyumbat lubang hidungnya itu.
“Kak Ubay!”
Ubay tergeragap. Mestinya ada waktu 3 detik lagi untuk mengatur degup jantung.
“Kau keterlaluan, tak tahu diri, tak tahu malu! Kau tak mikir aku ini siapa dan kau siapa! Kau... ”
Rani mengerem ucapannya. Ia tak sanggup melanjutkan caci makinya. Kalimat-kalimat pedas lain seperti kau jelek, kau kampungan, kau kurang ajar, malah nyangkut di kerongkongan. Apatah pasal? Karena Rani tiba-tiba melihat raut wajah Ubay menjadi sebegitu mengharukan. Rani jadi nggak tega memarahinya.
“Aku ingin kak Ubay melupakan aku,”si gadis mengakhiri ucapannya dengan lemah lembut.
<i>Jep!</i> Sepi. Tak ada yang berkata-kata lagi.
Ubay menundukkan wajah dalam-dalam. Hatinya sedih. Sedih sekali. Lebih sedih ketimbang saat ia banting tulang jadi kemek buruh bangunan di Jakarta. Ucapan Rani menyayat hatinya. Lama Ubay menundukkan kepala, menunggu ucapan Rani selanjutnya.
Semenit berlalu. Kenapa Rani tak bicara lagi? Ubay menengadah.
“Sabar, Bay, sabar!”Ruslan berusaha menampilkan empati tinggi di wajahnya, tepat di depan mata Ubay.
“<i>Bujal</i>, kau!”Ubay mendamprat keki. Kemudian matanya berkeliling mencari Rani.
Di jalan sana, Rani bersama teman-temannya melenggang pulang sambil cekikikan.
“Dia bukan milikmu.”
“Diam, <i>koplok</i>!”
Sambungan