Polaroid

<blockquote>Telapak tangan itu dengan lembut membelai keningku, diusap rambutku, dibelainya pula dengan penuh kasih sayang. Aku tatap wajahnya. Ia tersenyum amat mempesona. Aku melihat bibirnya merekah dan aku ingin me... </blockquote>

Dias membuka mata. Sialan, itu semua cuma mimpi. Yang ada di depan matanya adalah dinding papan poskamling. Tapi... eh, dia masih merasakan belaian tangan di rambutnya. Tangan siapa?

Dias memutar posisi tidur.

“Nah, bangunlah Nak. Nggak baik tidur di tempat kotor begini. Nanti digerumut semut.”
<!--more-->
“Ah, emak rupanya. Aku sangka Winne yang membelai rambutku.

“Winne itu siapa? Pacarmu?”

Dias bangun duduk dan menggeleng lesu. Di sebelahnya ada perempuan tua usia 60-an yang keriput. Tangan si emak rupanya masih ingin terus membelai. Setelah Dias duduk, giliran tiang poskamling yang dibelainya.

Dias melirik kiri kanan. Buhe dan Beno rupanya pergi tanpa membangunkannya lebih dulu.

“Emak sendiri kenapa nongkrong di sini?” tanya Dias setelah menguap.

“Mencari Ubay. Kemana dia?”

“Dia kan sedang <i>ngadonan</i> di rumahku.”

“Nggak ada. Rumahmu ditungguin anaknya si Ningsih.”

“Panji, maksud emak?”

“Iya.”

“Lha, kemana pula kaburnya si Ubay?”Dias menggerundel. “Akhir-akhir ini ia jadi pemalas, Mak. Eh, ada apa sih mencari Ubay? Mau dikawinkan, apa?”

Mak Ubay tertawa. Tawanya hambar. Mak Ubay tampaknya sedang butuh sesuatu. Ia memandang jauh ke depan. Tapi matanya memang sudah rabun, sejauh-jauhnya mata Mak Ubay memandang, paling-paling hanya sampai ke tiang gawang.

“Ubay hendak membiarkan emak dan bapaknya mati kelaparan,”kata Mak Ubay getir.

Dias tersentak. “Eh, Mak, aku kan tiap hari menyuruhnya ngirim makananan buat emak dan bapak.”

Mak Ubay menggeleng lesu. “Hari ini tidak.”

“<i>Astaghfirullah</i>... Ubay sudah tidak berpri-ke-emak-bapak-an. Dasar anak kurang ajar! Ya sudah Mak, jangan sedih!”Dias membuka dompet dan mengeluarlan beberapa lembar uang lima ribuan. Mak Ubay menerima uang itu dengan wajah berseri, lalu ngeloyor pergi menuju warung Leli.

Dias menghela napas panjang. Dialihkan pandangannya dari Mak Ubay ke halaman rumah Wira. Tetapi, sebelum pandangannya berlabuh ke sana, itu mata nyangkut lebih dulu ke toko Iwan. Guru Bahasa Inggris di SMP Haurkuning itu sedang memasang sepanduk besar di depan tokonya.

Baru dua minggu Iwan membuka toko tersebut, jaraknya dari warung Leli hanya sepuluh kaki. Iwan rupanya nggak peduli dengan toleransi. Semua yang dijual Leli kecuali bakso, tersedia pula di tokonya dengan stok yang lebih banyak. Kalau mau toleran, Iwan semestinya menyediakan alat-alat sekolah atau photocopy saja di tokonya.

“Kasihan Leli,”gumam Dias. “Tapi, eh, biarlah, siapa tahu keberadaan toko itu akan membantu penjualan kecap-kecapku.”

Sekarang spanduk besar sudah terpasang. Dias menajamkan mata untuk membaca sebaris iklan yang tertera di sana:

<blockquote>DI SINI DIJUAL KECAP CAP <b>SATRIO</b>. KECAP PALING NIKMAT DAN LEZAT PRODUKSI LEBAK SARI. MUTU TERJAMIN.</blockquote>

Hek, Dias langsung lemas, melongo tak berkedip, bengong bagai singa ompong. Iwan benar-benar mau bikin polemik.



Sambungan