Dias bohong. Dulu ia pernah bilang tak hobi baca fiksi. Buktinya, aku menemukan lembaran koran di kamarnya yang memuat cerpen-cerpenku. Salah satunya... ah, tepat sekali. Cerita pendek berjudul <b>Gorombolan</b> ini bercerita tentang peristiwa perampokan di rumah seorang petani bernama Usman. Para perampok yang berjumlah 5 orang tak hanya menguras harta milik Usman, namun dengan buasnya mereka bergiliran melahap tubuh Rubiah, istri Usman, sampai si istri mati akibat pendarahan. Usman merasa amat menyesal atas ketidak berdayaannya menyelamatkan sang istri. Penyesalan itu mengajak si Usman agar melakukan bunuh diri untuk membuktikan bahwa ia benar-benar menyesal, juga untuk membuktikan bahwa ia amat sangat mencintai istrinya.
Agaknya ada sesuatu yang melintas di benak Dias ketika membaca cerpen ini. Ia sempat-sempatnya menggaris-bawahi beberapa kalimat dengan pinsil:
<!--more-->
<blockquote><u>Ia meronta, menjerit, meratap, mencakar, menerjang. Itu usahanya dan ternyata sia-sia. Lalu tenaganya habis, ia memandangku tak berdaya.
Aku memejam mata, mencoba meredam amukan perasaan. Ia lagi-lagi memandangku dengan sinis.
"Engkau lelaki lemah!"
Ya, aku bukan jagoan yang pandai karate. Aku tak sanggup melawan. Aku takut senjata tajam mereka akan merobek perutku.
Aku bukan ksatria yang gagah berani, yang tak gentar dengan kematian, demi haknya.
Ia istriku. Mereka ramai-ramai menjamahnya, menelanjanginya. Dan aku hanya bisa memejam mata. Aku memang pengecut.
Ia memandangku lagi dengan sinis. "Tidakkah kau cemburu?"
Ya, aku cemburu, aku murka. Tapi 2 perasaan itu tak cukup untuk menghalau rasa takutku akan sayatan pedang yang menempel di leherku.</u></blockquote>
Ah, si gondrong (panjang rambut Dias sebatas bahu) tak menyadari bahwa ketika membaca cerpen <b>Gorombolan</b> ini, dirinya sedang mengungkap rahasia kematian orang tua aslinya sendiri. (dari penulis: lihat postingan berjudulKetika koran-koran itu hendak kubereskan tiba-tiba jatuh sehelai kertas. Aku membaca tulisan tangan Dias di kertas itu. Ternyata isinya adalah ungkapan hati Dias kepada Winne.
Aku bergegas keluar kamar karena kutahu si Dias pasti sebentar lagi akan datang. Aku berniat pulang untuk menyelesaikan lukisan photo bu Isyah. Setelah mengunci pintu dan anak kuncinya kusimpan kembali di pentilasi, aku melenggang pulang. Kurogoh saku celana. Ujung jariku menyentuh kertas surat Dias itu. Aku ingat, sangat ingat, apa yang terbaca di kertas itu.
<blockquote>Kau yang kukasihi malah ngomong seenaknya...
Kau menuduhku...
Biarlah aku pergi meninggalkan segalanya...
Dirimu, terserah dirimu...</blockquote>
Di tengah jalan aku bertemu Mak Ubay. Nenek itu tersenyum mengangkat bungkusan plastik di tangannya.
"Kalau bertemu Ubay, katakan Emak dan Bapak belum makan siang," katanya.
Aku mengangguk. "Itu apa, Mak?" tanyaku sambil menunjuk kantong plastik.
"Nasi bungkus."
"Lha, buat makan siang siapa dong, Mak?"
Mak Ubay melengos. "Kalau ini sih untuk sarapannya. Pagi tadi, Emak dan Bapak kan belum sarapan."
Sambungan