80s toys - Atari. I still have

Usia Adjie 25 tahun. Lulus sarjana langsung tes ujian PNS. Gagal. Benar kata orang, untuk jadi mapan memang harus selalu ada yang dikorbankan, minimal 10 ekor kerbau musti dijual untuk memuluskan jalan menuju harapan. Tapi Djaliel, ayah Adjie, tak ingin mencoreng nama baiknya sebagai seorang haji. Setiap tawaran yang berbau KKN ditolaknya.

Untunglah, lelaki 60 tahun itu punya banyak kenalan asal Lebaksari. Salah satunya menyarankan agar Adjie menghonor dulu di SMP Lebaksari. Selesai mengurur administrasi, Adjie resmi mengajar di sana untuk mata pelajaran... <b>Kerajinan Tangan</b>.

Di sekolah tersebut, Adjie adalah satu-satunya guru dari luar kecamatan Lebaksari. Tempat tinggalnya yang jauh di kecamatan Cikaso menempatkan dirinya sebagai guru yang paling banyak kendala dalam masalah transfortasi.
Perjalanan Cikaso - Lebaksari yang terentang 18 km bukanlah perjalanan semacam tur yang menyenangkan. Dari Cikaso Adjie bisa naik bis kecil jurusan Tasik (menjauh dari pusat kota kabupaten Kuningan yang jaraknya tinggal 5 km lagi), kemudian turun di sebuah persimpangan yang tertancap plang bertuliskan <b>KE LEBAKSARI</b>. Di simpang itu, beberapa angkutan pedesaan goprok menunggunya. Adjie tak punya pilihan, kecuali ia bisa memilih mobil mana yang sudah berpenumpang dan yang mesinnya siap dihidupkan.

Di dalam angkutan pedesaan ini Adjie duduk bersama ibu-ibu penjual pasaran yang mulutnya tak bisa berhenti <i>wak-wak wek-wek</i>. Bagaimana jadinya jika celotehan mereka digabung dengan bunyi raungan mesin yang <i>rebek</i>?

Yang namanya penjual di pasar pasti bawaaannya keranjang atau bakul. Satu dua dari sekian banyak bakul itu isinya mungkin saja ikan asin atau mungkin juga terasi. Keadaan itu kadang diperparah pula oleh ulah lelaki tua yang merokok di sebelahnya. Nah, bagaimana kalau separuh penumpangnya belum mandi pagi? Dan bagaimana pula kalau tiba-tiba seseorang kentut? Hidung pastinya akan menderita ketidak-nyamanan.

Ketika mobil melewati jalan <i>garinjul</i> banyak lubang, pantat Adjie menjadi makin terasa ambeien-nya. Sebentar-sebentar terangkat dari jok yang keras, sedetik kemudian terhempas. Kadang kala mobil meliuk di kelokan tajam, penumpang di sebelahnya ikut meliuk dan mendesak tempat duduknya. Wuaaah... Adjie tak bisa berkutik. Benar-benar sengsara. Dan itu terjadi selama 1 jama, sebelum mobil sampai di wilayah kecamatan Lebaksari yang jalannya agak mulusan.

Itu baru perjalanan dari rumah ke sekolah. Bagaimana saat pulangnya di siang hari?

Dasar nasibnya harus jelek, jam kepulangan Adjie dari mengajar berbarengan dengan jam kepulangan para ibu-ibu penjual di pasaran itu. Silakan bertanya; apakah mereka tak kehabisan celoteh <i>wak-wak wek-wek</i>-nya?

Kasihan melihat anaknya kerap mengeluh soal pengangkutan, maka Djaliel pergi ke dealer motor Yamaha. Pulangnya ia menuntun jupiter Z.

Sejak ada sepeda motor, Adjie mulai merasakan nikmatnya perjalanan. Ia bisa berhenti istirahan sesuka hati di mana saja sambil menikmati pemandangan desa. Telaga, sawah, sungai, gunung dan perbukitan, serta... ah, perempuan. Setiap desa yang dilewatinya senantiasa menyuguhkan gadis-gadis, baik yang sengaja nongkrong di tepi jalan, mau pun yang memang lagi nunggu angkutan.

Ngomong soal gadis, Adjie jadi teringat sama Tini Anggraeni, sejawatnya di SMP yang rada-rada menarik. Melihat sikap Tini yang suka grogi kalau disapa, Adjie dapat menebak bahwa gadis itu cinta kepadanya. Tapi, Adjie bukan cowok gampangan dalam soal cinta. Ia senantiasa mengorek sisi terburuk pribadi Tini. Terlepas dari itu, Adjie tak mau profesionalitasnya terusik gara-gara menjalin hubungan asmara dengan wanita sekantor.

Saat masih bimbang-bimbangnya memikirkan Tini, pada suatu padi di bulan September silam, motornya tanpa sengaja nyeruduk lengan seoramg gadis asal Pasirbambu , pada bagian akhir diceritakan tentang peristiwa kecelakaan ini). Adjie tidak mengalami luka-luka dalam insiden tersebut, tetapi gadis bernama Winne yang disenggolnya terkapar pingsan di jalan. Nah, setelah itu, setelah ia perhatikan cantiknya wajah Winne, pikirannya jadi selalu terpusat ke Pasirbambu. Tini? Harus <i>bye-bye</i> dari ingatan.

Nyaris setiap hari sepulang mengajar Adjie mampir ke rumah Winne. Ia selalu diterima dengan suka cita oleh kedua orang tua Winne. Tapi sayangnya, Winne kerap menghindari pertemuan. Winne tak mau duduk dua-duaan. Ia ingin ibunya ikut menemani Adjie, dan ia akan diam seribu bahasa di depan Adjie. Ternyata oh ternyata, gadis tertutup seperti inilah yang disukai Adjie.

"Sepanjang aku mengenal wanita, baru pertama kali aku dipertemukan dengan gadis yang matanya tidak berbinar melihat ketampananku," pikir Adjie. Ia semakin penasaran. Ia ingin menaklukan keangkuhan hati gadis itu.

Sebulan kemudian, Adjie memantapkan pikiran untuk segera melamar. Ia memboyong kedua orang tuanya ke Pasirbambu.
Sambungan