"Dua minggu lagi?" sepasang mata Djaliel melebar saat mendengar putusan Wira tentang rencana pernikahan anak mereka.
"Ya, dua minggu lagi. Kalau tidak ada aral merintang," tegas Wira.
"Apa tidak terlalu buru-buru?" Rokayah protes. "Bukankah kami harus mempersiapkan segala sesuatunya?"
Wira tersenyum. "Lebih cepat tentunya akan lebih baik. Putri saya, yah, dia seorang penurut. Sebaliknya Adjie barangkali sudah pula mantap pikirannya. Untuk apa kita menunggu waktu lebih lama lagi? Itu akan mengundang godaan-godaan yang bisa menyimpangkan rencana kita. Betul kan, bu?" Wira menoleh istrinya, Isyah, yang sedari tadi diam saja memperhatikan lukisan pemandangan di dinding. Isyah menduga-duga lukisan itu adalah karyaku. Perempuan itu segera mengiyakan sembari tersenyum.
Djaliel yang haji dan bergelar doktorandus termenung agak lama. Tapi akhirnya, lelaki yang masih menjabat sebagai kepala Madrasah Ibtidaiyah di Cikaso itu mengangguk setuju.
<!--more-->
"Tepatnya tanggal berapa ya?" Rokayah memandang kalender.
"Hari Minggu, tanggal 15 Desember. Kalender Hijriahnya tanggal 23 Rabiulawal," jawab Wira.
Djaliel dan istrinya manggut-manggut. "Yah, mudah-mudahan rencana kita berjalan lancar. Oh, mari diminum tehnya! Eh, bu, Omah kemana? Tolong dia suruh beli martabak di warung depan itu!"
"Aduh, terima kasih pak Haji. Tak usahlah beli martabak segala. Ini pun sudah cukup," Isyah menahan kepergian Rokayah.
"Iya, seadanya saja. Yang tak ada tak usah diada-adain," timpal Wira, mengambil gelasnya, menyeruput teh hangatnya.
Djaliel mesem, sedangkan istrinya tersipu malu. Maklumlah, kedatangan tamu dari Pasirbambu ini tidak terduga. Coba <em>atuh</em> sehari sebelumnya nelepon dulu, beritahu kalau hendak bertamu, tentu akan banyak kue mewah yang tersaji di meja. Dan tentunya Omah tak perlu bingung membeli <em>wedang</em> apa untuk tamu majikannya. Sialnya lagi, di warung cuma ada <em>cucur</em> buatan lokal saja.
"Biasanya pukul berapa Adjie sampai di rumah?" Isyah mengusir kevakuman suasana.
"Sebentar lagi pasti datang, sekarang kan sudah jam 2," jawab Rokayah.
"O ya, kabarnya dalam waktu dekat ia akan diangkat jadi guru tetap di SMP Lebaksari. Benar begitu, Bu?"
"<em>Alhamdulillah</em>, tinggal menunggu SK-nya keluar. Anak sulung saya itu memang sudah sepantasnya naik pangkat. Ia meraih banyak prestasi sehingga mendapat gelar guru teladan. Murid-murid asuhannya pun jadi pintar-pintar," kata Rokayah bangga.
"Masih mengajar Kerajinan Tangan?"
"Tidak. Sekarang ia memegang mata pelajaran Fisika kelas 2."
Sambungan