Lamborghini Huracán LP 610-4 t

Ubay bingung, stres, depresi. Ia gundah gulana memikirkan kalimat apa yang harus disusun dalam suratnya ―yang terakhir― buat Rani. Apakah mesti <i>to the point</i> tanpa berbasa-basi dulu <font color="red">“Rani, besok aku mau bunuh diri. Jaga baik-baik kesehatanmu!”</font>? Ataukah musti pakai kalimat yang rada-rada ekstrim semisal: <font color="red">“Rani, besok aku mau bunuh diri, nih! Semua gara-gara kamu. Awas, setelah aku mati, aku akan gentayangan padamu!”</font>?

Sudah berjam-jam lamanya pemuda berambut gimbal itu duduk bermenung di depan selembar kertas yang baru tertulis kata 'salam' saja. Ubay bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata (kalimat ini dicomot sembarangan dari lirik lagu <b>Base Jam</b>) meski cuma untuk sepucuk surat. Terus terang, seumur hidup, Ubay tak pernah berhasil membikinkan surat cinta, padahal apa yang dilakukannya seperti siang ini bukanlah perbuatan yang tak biasa. Berkali-kali ia berniat bikin surat, tapi berkali-kali juga kertas yang disiapkannya malah digambari pendekar yang lagi silat-silatan. Meski begitu, diam-diam Ubay senang juga karena sewaktu ia menggambar Wiro Sableng itulah, ia dapat melupakan perasaannya terhadap terhadap Rani, setidaknya untuk beberapa menit.
<!--more-->
Tapi kali ini, alih-alih dapat melupakan Rani, Ubay malah tambah hanyut ke dalam perasaan sentimentilnya. <font color="red">“Bunuh diri... hm, satu-satunya cara untuk membuktikan betapa dalamnya cintaku,”</font>ia bergumam. Ia harus membuat surat perpisahan agar gadis yang dicintainya itu menyesal.

<font color="red">“Dia akan menangis jika telah sampai berita kematianku di telingannya, mati bunuh diri. Oh, dramatis sekali. Dia akan memanggil namaku terus-menerus:<i>Ubay, oh Ubay, kenapa kau lakukan?”</font> Ubay tersenyum persis seperti senyum bocah yg baru dibelikan mobil mainan.

Benarkah apa yang diucapkannya barusan adalah asli kalimat pemikirannya sendiri? Enak saja dikau! Itu kalimat yang ada di cerpenku berjudul <b>Surat Perpisahan</b>. Cerpen tersebut sengaja tak kukirimkan ke koran karena aku tahu bahwa itu adalah karya sampah. Lagian mana ada koran yang mau mempublikasikan karya yang isinya mengajak seseorang yang patah hati untuk bunuh diri? Nah, cerpen itu sengaja kusimpan di meja depan rumah Dias, dan agaknya setiap yang duduk di ruang depan, mau tak mau akan membacanya. Ya, termasuk si Ubay, yang kemudian malah menghapal kalimat-kalimatnya.

<font color="red">“Dia akan menyesal, dalam mimpinya, dalam terjaga, setiap detik. Bayangan wajahku yang tampan ini akan menghantuinya setiap malam. Aku akan gentayangan ke kamarnya, meniupkan nafasku di telinganya. Aku akan membisikkan kata-kata cinta, dan akan kubuat ia rindu setengah mati padaku.”</font>

Ubay tenggelam dalam kenikmatan aneh ketika membayangkan kehidupan setelah kematiannya nanti.

Ck, ck, ck! Ia pikir setelah mati ia akan bebas gentayangan. Enak dong!


Sambungan