“Terima Kasih, Mang!”Ai meloncat turun dari angkutan yang telah mengantarnya pulang sekolah.

“Yo'i, sama-sama,”sahut sang kenet, bergelayut di pintu mobil. “LAJU, PIR... !”teriaknya kemudian.

Ai mengeluarkan sapu tangan dan mengusap peluh di kening. Belum sempat memasuki pekarangan rumah, langkahnya terhenti. Ia melihat seorang gadis bergegas menuju ke arahnya.

“Aih aih, sudah lama nggak lihat Winne jalan-jalan. Semakin tambah kurus dia,” kata Ai dalam hati. Winne adalah teman sekelasnya dulu di SMP. Semenjak Winne berhenti sekolah, hubungan pertemanan mereka agak merenggang. Ai tersenyum sembari menunggu Winne tiba di hadapannya.
“Baru pulang sekolah, ya?” Winne menyapa lebih dulu, Di mata Ai, senyum gadis itu sekarang sangat beda dengan senyumnya di SMP dulu.

“Iya, Win. Eh, kamu mau ke mana?”Ai memperhatikan gulungan kanvas di tangan Winne.

Winne menggeleng lesu. “Sudah lama aku nggak jalan-jalan,”katanya.

“Panas terik begini kok jalan-jalan sih, Win?”

Winne menggeleng lagi. Gulungan kanvas dipukul-pukulkan ringan ke pagar bambu. Wajahnya yang kusut menampakkan kebimbangan.

“Itu kertas apa ya?”tanya Ai lagi.

“Ini... ”Winne berhenti memukul-mukul pagar. “Senjata kalau ada yang berani menggodaku,”lanjutnya sembari tertawa.

Ai mesem saja. “Jalan-jalannya nanti sore saja, ya! Sekarang mampir ke rumahku yuk. Ibuku bikin manisan mangga. Mau?”tawar Ai.

Winne mengangguk.

Kedua gadis berlainan perangai itu memasuki pekarangan rumah Ai yang asri.


Sambungan


80s toys - Atari. I still have